08 Juni 2011

Kruiket II


aku ingin menukar senyummu dengan secangkir kopi pahit
malam ini

07 Juni 2011

kruiket


ketika air mata sudah tak layak bawa pesan
maka teteskanlah darah
dan jika darah pun tak dianggap
apalah arti satu dua jiwa?

06 Juni 2011

REVOLUSI

oleh WS Rendra

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air
Saat ini kita masih terperangkap lingkaran setan
KEMISKINAN
KETIDAKPEDULIAN
KORUPSI
KERJA ASAL-ASALAN

Ayo, kita yang tidak mau lagi dijajah oleh
Kemiskinan dan kesusahan
Kini saatnya REVOLUSI kebangsaan!!!

Mari kita berjanji…

Aku
Warga Negara Indonesia
Kutumpahkan darahku,
Badanku dan hatiku
Berperang melawan
Kemiskinan dan kesusahan
Belajar dan bekerja sungguh-sungguh
Dengan semua kekuatan otot dan otakku
Menjadi pendobrak kemajuan
Bangsa dan keluarga
Demi masa depan
Indonesia bahagia dan sejahtera

Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia



oleh: WS Rendra

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.

O, jaman edan !
O, malam kelam pikiran insan !
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan !
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja !
Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !
Berhentilah mencari ratu adil !
Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya !
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.

Bau anyir darah yag kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata :
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana !
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta !
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati ?
Apakah masih akan menipu diri sendiri ?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan !

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini

jakarta, 17 mei 1998