Tampilkan postingan dengan label puisi-kah?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi-kah?. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2010

Pertobatan Seorang Biadab

maafkan aku tuhan
besok aku masih ingin berbuat dosa

(28/05/09)

08 Oktober 2010

Cinta Semusim

daun2 berguguran
musim berganti
dan mereka berlalu
meninggalkan jejak2 bualan tentang cinta

(1 Juni 2009)

Jangan Lupakan Gincu Merah-mu (surat amarah untuk Andhika Mappasomba)

atas nama gincu merah yang tergores di bibirku
aku kabarkan kegenitan tanda-tanda alam
lewat dedaunan telinga yang meranggas merobek jantung langit
lewat celoteh-celoteh cadas
penghardik suami-suami malas
di usia senja kehamilan

atas nama gincu merah
kita pernah seia-berlawan
menata taman bunga
dengan belati masing-masing
tapi, masihkah kau punya belati?

ah, aku tak percaya kau sudah tak berbelati
mungkin hanya tumpul
atau gagangnya yang retak

datanglah dengan belati itu
bukankah gelanggang tak boleh sepi?

jika kau tak datang
atas nama gincu merah
pergilah jauh-jauh
karena aku punya belati yang tajam

(Mks, 27/12/2009

Simpang Kata

melaju di jalan kata
aku temukan diriku di simpang alfabeta zaman
terkeroyok aksara impian-impian

aku mengeluh tanpa suara tanpa warna
dari kutuk langit dewa pendendam

di simpangan bukit paradox
aku mengeja alam, membaca garis tangan dan mengukir harfiahnya ilmu pasti
tapi tak juga berjodoh dengan bidadari kebahagiaan

lalu aku temukan segumpal buah neraka di gudang tua rumah moyangku
dan kutitipkan di halte-halte
untuk manusia yang lewat
di jalan kata

aku membunuhmu
kau pun harus mati

(Mks, 10/10/2009)

08 Oktober 2008

untuk-ku


aku
sembunyi

pelangi

akhirnya
hujan datang juga
tapi apakah kau temukan pelangi
di sela kelopakan mimpi
sore ini?

aih..becek

23 September 2008

Hari ini Melawan, Esok Siap Dibekali Kafan (Mantra Tolak Takut)

darah...
darah dan airmata
sudah habis kutumpahkan
di penyesalam yang kemarin
dan sekarang...
sekarang jika engkau ingin melihat
wajah-wajah ketakutan berderai airmata
takkan lagi bisa kau saksikan
dari wajahku
pun dari wajah rakyatku
yang selama ini kau hantui setelah kau tindas

detik ini, gelombang kesadaran
dan roh nabi-nabi telah merasuki
tulang dada kami
tembok baja sekalipun akan kami tabrak
bahkan kematian akan kami lawan

darah..
nyawa...
darah dan nyawa ini bukanlah milik kami
juga bukan milik kalian
ini titipan Ilahi-Maha Pemilik
dan jika engkau masih saja jadi duri
penghalang gelombang kesadaran ini
akan kusiapkan diriku
akan kami siapkan barisan perlawanan
yang tak kenal mundur biar sejengkal

hari ini kami berkata tidak untuk penindasa
itu berarti esok kami siap dibekali
kafan

15 April 2003
(dibacakan ke-2 kalinya di rektorat Unhas, saat "preman" mulai meng-gertak)

kata mati

aku sudah lama mati
menghidupkanku
hanya akan jadi lakon horrible

dan bagi yang telah lama mati
tak ada ketakutan
selain hidup kembali

Makassar, September 2008

1 musim 1 cerita

dalam terang
aku tak berani senyum
aku takut kelam marah
melihatku berselingkuh
dengan matahari

dalam sunyi aku takut berbisik
kudengar semalam
keramaian mengintaiku dengan tatapan makar

biarlah aku terapung di sela-sela
belukar harapan
karena duri -pun jika diasah
ampuh menjebol kuasa yang perawan

satu musim
satu cerita

Makassar, September 2008

Promotheus

menapaki tangga-tangga langit
tak kutemukan namamu
di buku tamu
seperti pelangi
keindahan adalah akhir kisah-mu
kaukah bocah yang didustakan itu?

Makassar, September 2008

.......

rintihan dan tangisan harus disembunyikan
sebab di wajah bumi
pemelasan tidak pernah mendapat tempat
hanya sangsakala satria yang mendapat tempat
hanya sangsakala satria yang mampu
mengubah wajah dunia.

Apa kabar hari ini sahabat..

(anonim)

Ramalan Cuaca

pagi ini
hujan takkan datang
semalam
aku dapat sms dari langit
awan pisah ranjang
dengan mendung

Makassar, 10 September 2008

dostoyevsky

lihatlah
gelanggang telah sepi

pandawa tertidur di pangkuan kurawa
kurawa tertidur di pangkuan pandawa

iblis
ada
malaikat
tersenyum
haru


Makassar, 10 September 2008

08 September 2008

katamati: Engkau, Pilihanku yang Terakhir

katamati: Engkau, Pilihanku yang Terakhir

me-latah

ayo kita sama belajar gila
sebelum bermimpi
meraba tanda zaman
dengan bisikan mesra di kuping rerumput kering
pada kumpulan prihatin
yang melata di ujung mata

ayo kita sama melata
mengendusi watak reptil
dengan bisikan gairah kebaruan
pada perjalanan tanpa akhir

ayo makhluk gila yang melata dan dihinakan langit
bersatulah menghapus dosa
karena esok milik siapa saja
termasuk kita
yang belajar gila
dan melata

stop! jadi bangsa pengutang

subsidi untuk rakyat terkikis perlahan di depan mata
kosakatanya pun mulai pudar di kamus anggaran
rakyat tak boleh manja-katanya
rakyat tak boleh cengeng karenanya

biarkan rakyat belajar berdagang
memperdagangkan moralitas yang nyatanya memang telah tergadai
kepada rentenir
kepada kapitalis-kapitalis laknat

stop! kurangi dan hentikan subsidi rakyat
jual apa yang bisa dijual
janjikan apa saja yang bisa diobral
asal kita bukan bangsa miskin
asal bantuan tetap mengalir
asal rakyat tetap sabar tak banyak omong
asal stabilitas tetap terjaga
asal-asalan…
kita pasti masuk surga
ya tentu surganya bangsa kere

bantuan luar negeri-pembangunan-demokratisasi
itu utang luar negeri yang harus dilunasi
secepatnya atau teken kontrak lagi
tambah utang – tambahkan waktu
kepada mesin-mesin raksasa negara kapitalis
menguras bumi tebangi hutan
dan menggerayangi gadis-gadis perawan desa?

stop!
berhenti jadi bangsa pengutang
robek saja kontrak yang tak pernah diteken dan dinikmati
nenek moyang pejuang kita
bukan utang anak cucu kita
tapi utangnya pedagang bangsa
utangnya kaum yang memelihara penjaga
pagar berkawat kejam
utang dari membeli senapan pembunuh rakyat

stop!
berhenti jadi bangsa pengutang
karena bumi ini kaya raya

rakyat pun kuat bertani
biar tak makan keju
cukup singkong bakar di perut
asal pabrik-pabrik milik sendiri
asal sekolah-sekolah milik sendiri
asal jangan mengutang lagi padarentenir-rentenir kapitalis
rakyat pasti temukan surga
memerdekakan surga yang telah mereka pindahkan
dari kepala-kepala kaum timur

stop! jadi bangsa pengutang
atau berhenti jadi bangsa
menjadi bangsat

bulukumba, 2 november 2005

raungan martir

tunggal aku berdiri pada esa-nya
kokoh tak-kan terbelah
tak ada keluh
tak ada penyesalan
sebab jihad adalah nurani perjuangan
meski angin berhembuske lain arah
pantang berpihak pada berhala sesat

hei rezim haram jadah
serapahmu adalah pemantik darah muda
kukobarkan perlawanantak kenal usai
aku melawanmu!!!

hei rezim terkutuk
penggal kepalaku
alirkan darahku untuk hijau dedaunan
yang kurus terisap
hingga kami bergemeretakan
menyongsong sabda putih revolusi
maka jeritan itu tak sia-sia

pondokan tak bernama-makassar, 20 juli 2004

di pengasingan aku masih teriak lantang

aku ingin meremukkan matahari
dan mencampakkan baranya biar bumi jadi beku
bekukan darah yang mendidih marah
marah yang tak tertumpahkan

aku ingin mengencingi rumah tuhan

hinggamereka jijik menyembah-nya
dan menjambakku seperti kecoa
kecoa yang tak lagi geram dengan penindasan-pengisapan
hingga mereka jijik pada tai mereka sendiri
dan membelah perut-perut buncitnya sendiri
diri yang tak lagi memiliki tumpukan jasad
hingga mereka tak lagi berbakat maling

aku ingin merobek-campakkan sayap lalat
biar tak ada lagi kabar busuk
dari mulut-mulut busuk yang didandani janji1001 malam

yang nyatanya adalah tai dan omong kosong

aku ingin jadi diri yang tak dimiliki siapapun
oleh apapun yang menjual
membeli, mengklaim, memfitnah
biar diri-diri yang lainnya

tak lagi ragu
satukan diri ceraikan kesendirian
pada barisan tegar yang menabrak duri
tanpa segan singkirkan tirani kafir

aku ingin secepatnya tak lagi ingin dalam harapan
dalam impian hingga berontakku

berontak kami
temukan jalan sepanjang makna
atas nama nafas yang menanti mati

makassar, 14september 2005

terlipat dalam gulungan

masa sudah parau memanggil kata
di tua-keriputnya alur yang kemarin
untuk memenggal warna yang tak se-ibu

ini dunia dahaga
dunianya mustadh’afin yang menanti percikan api berontak
disulut ke bumi tanahberpijak
sambil berayun di tali langit – lauhul mahfuds

sabarlah
pendamlah birahi mudamu
sebab kawanmu masih terlipat dalam gulungan
cetak biru yang merekahkan bara menjadi nyala
di padang gembalaan cita

yakinlah
duniamu menjemputdamai

makassar,30 januari 2005

pahlawanku kurus-dekil

dengan asap tersembul dari mulut
yang hitam-bau
dengan pena pinjaman dari kawan
sesama miskin
mencoret-coret abjad
memainkan aljabar takdir

dia kawanku
pahlawan tak bermedali
yang membaca takdirnya dengan jujur
sebelum pulang dan berendam di sumur asal

dia kawanku
pahlawanku yang kurus
dekil
tak mampu beli air yang terjual
tanah yang terjual

dia kawanku
yang miskin
karena menolak dijual
atas nama cinta
selain-nya

makassar, 2januari 2005